Hallo Sahabat Solidaritas… 

Beberapa orang kerap kali mempertanyakan tentang jenis vaksin Covid-19 yang telah diberikan. Tak sedikit masyarakat yang bertanya-tanya tentang perbedaan dari beberapa jenis vaksin tersebut. Maka dari itu, disini kita akan bahas terkait ke-5 jenis vaksin Covid-19.

Ada beberapa macam vaksin covid-19 yang digunakan dalam program vaksinasi nasional. Jenis vaksin tersebut diantaranya adalah Sinovac, Moderna, Sinopharm, Astrazeneca dan Pfizer. Macam-macam vaksin covid-19 tersebut telah mendapatkan izin penggunaan darurat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).  

Setiap jenis vaksin Covid-19 memiliki karakternya masing-masing, misalnya jumlah dosis dan interval pemberian. Selain itu platform vaksin Covid-19 tersebut juga berbeda-beda, ada yang dikembangkan dari inactivated virus, berbasis RNA, viral-vector, dan sub-unit protein. Meski demikian, semuanya sudah dipastikan keamanannya dan efektivitasnya dalam menangkal virus Covid-19. Satgas covid-19 menghimbau agar masyarakat untuk tidak perlu pilih-pilih jenis yang akan diberikan.

Berikut macam-macam vaksin Covid-19 yang telah digunakan di Indonesia :

Vaksin Sinovac

    Pada saat ini perlombaan untuk memproduksi vaksin diawali oleh China dengan Sinovac dan Sinopharm. Perusahaan biofarmasi yang berkedudukan di Beijing China tersebut mendukung pemanfaatan CoronaVac yaitu vaksin yang tidak aktif. Vaksin tersebut bekerja dengan menggunakan virus yang sudah dimatikan guna merangsang system kekebalan tubuh terhadap virus tanpa risiko memberikan respon terhadap penyakit yang serius. CoronaVac adalah metode vaksin yang lebih tradisional seperti digunakan pada banyak vaksin diantaranya adalah vaksin rabies. Hal tersebut diungkapkan oleh Associate Professor Luo Dahai dari Nanyang Technological University kepada BBC. 

Disebutkan salah satu keunggulan utama dari vaksin Sinovac adalah dapat disimpan di lemari es standar dengan suhu 2-8 derajat Celsius. Hal ini tentu lebih menguntungkan bagi negara–negara berkembang karena dapat menyimpan vaksin dalam jumlah yang besar pada suhu tersebut. Bagi Indonesia hal ini juga memudahkan mengingat kondisi infrastruktur tiap-tiap provinsi tidak sama (Yvette Tan, 2021). 

Vaksin Sinovac telah menjalani uji coba fase tiga di berbagai Negara. Data sementara dari uji coba tahap akhir di Turki dan Indonesia menunjukkan bahwa vaksin tersebut efektif masing-masing sebesar 91,25% dan 63,50% . Para peneliti di Brasil pada awalnya mengatakan dalam uji klinis mereka efektifitas vaksin Sinovac adalah 78%, akan tetapi setelah dilakukan penambahan data penelitian maka angka tersebut direvisi menjadi 50,40% dan dideklarasikan pada bulan Januari 2021. Vaksin Sinovac telah disetujui untuk penggunaan darurat pada kelompok berisiko tinggi di China sejak Juli 2020, dan pada September 2020 Sinovac telah diberikan kepada 1.000 orang sukarelawan denga hasil kurang dari 5% merasakan tidak nyaman atau kelelahan ring an (Yvette Tan, 2021).

Selain Indonesia beberapa negara di kawasan Asia telah menandatangai kesepakatan untuk memberli vaksin Sinovac yaitu Singapura, Malaysia, Filipina. Adapun Indonesia sejak 13 Januari 2021 sudah dimulai vaksinasi nasional yang dipelopori oleh presiden Joko Widodo sebagai orang pertama penerima vaksin di Istana Merdeka.Vaksinasi tersebut merupakan titik awal pelaksanaan vaksinasi massal secara gratis guna menangani masalah pandemic Covid-19 di Indonesia. Presiden menerima suntikan vaksin yang diproduksi oleh CoronaVac buatan Sinovac Life Science Co.Ltd. yang bekerja sama dengan PT. Bio Farma (Persero) dan telah melalui uji klinis melibatkan 1.620 relawan di Bandung (Presiden Republik Indonesia, 2021).


Vaksin Sinopharm 

    Sinopharm, adalah sebuah perusahaan milik China juga mengembangkan vaksin Covid19, yang serupa dengan Sinovac, yaitu merupakan vaksin yang tidak aktif dengan cara kerja yang serupa dengan Sinovac. Pada 30 Desember Sinopharm telah mengumumkan bahwa uji coba fase ke tiga vaksin menunjukkan nilai efektifitas sebesar 79%. Di China sekitar satu juta orang sudah disuntik menggunakan Vaksin Sinopharm, di bawah izin pengggunaan darurat. Akan tetapi Uni Emirat Arab mengatakan menurut hasil uji coba pada penelitian fase ke tiga menunjukkan angka efektifitas sebesar 86%. Turki, Brasil , Chili, Uni Emirat dan Bahrain telah menyetujui penggunaan vaksin Sinopharm (Yvette Tan, 2021).


Vaksin Moderna

    Vaksin Moderna memiliki nama dagang adalah mRNA-1273, yang dibuat oleh ModernaTX, Inc, dengan tipe vaksin adalah mRNA. Food Drug and Adminintration (FDA) telah mengizinkan penggunaan darurat Vaksin Covid-19 Moderna untuk mencegah Covid 19 pada individu berusia 18 tahun ke atas di bawah otorisasi penggunaan darurat (Emergency Use Authorization). 

Kandungan yang terdapat dalam vaksin Moderna adalah: ribonucleic acid (mRNA), lipids (SM-102, polyethylene glycol [PEG] 2000 dimyristoyl glycerol [DMG], cholesterol, and 1,2-distearoyl-sn-glycero-3-phosphocholine [DSPC]), tromethamine, tromethamine hydrochloride, acetic acid, sodium acetate, dan sucrose (CDC, 2020). 

Di dalam uji klinis, kira-kira sebanyak 15.400 individu berusia 18 tahun ke atas telah menerima setidaknya 1 kali dosis Moderna Uji klinis untuk vaksin Moderna mencakup orang-orang dari kategori ras dan etnis berikut 79,40% putih, 20% Hispanik/ Latino, 9,7% Afrika Amerika, 4,70% Asia, paru-paru, penyakit jantung, obesitas, diabetes, penyakit hati, atau infeksi HIV. Sebanyak empat persen (4%) peserta memiliki dua atau lebih kondisi berisiko tinggi (CDC, 2020). 

Berdasarkan bukti uji klinis, vaksin Moderna 94,10% dinyatakan efektif mencegah penyakit Covid-19 yang dikonfirmasi di laboratorium pada orang yang menerima dua dosis yang tidak memiliki bukti terinfeksi sebelumnya. Vaksin menunjukkan efektifitas tinggi dalam uji klinis (kemanjuran) di antara orang-orang dari berbagai kategori usia, jenis kelamin, ras, serta etnis dan diantara orang-orang dengan kondisi medis yang mendasarinya. Adapun efek samping dari vaksin Covid-19 Moderna meliputi reaksi di tempat suntikan yaitu berupa perasaan nyeri, nyeri tekan, dan pembengkakan getah bening di lengan yang sama dari suntikan, bengkak (keras), dan kemerahan. Secara umum ada perasaan kelelahan, sakit kepala, nyri otot, nyeri sendi, mual dan menggigil, mual dan muntah (Moderna, 2021).


Pfizer BioNTech

    Nama vaksin Covid 19 dari Pfizer BionTech adalah BNT162b2, diproduksi oleh Pfizer Inc., and BioNTech, dan termasuk golongan vaksin tipe mRNA. Adapun kandungan vaksin Pfizer Inc., and BioNTech adalah mRNA,lipids ((4-hydroxybutyl)azanediyl)bis(hexane-6,1- diyl)bis(2-hexyldecanoate), 2 [(polyethylene glycol)-2000]-N,N-ditetradecylacetamide, 1,2- Distearoyl-sn-glycero-3- phosphocholine, and cholesterol), potassium chloride, monobasic potassium phosphate, sodium chloride, dibasic sodium phosphate dihydrate, and sucrose. Di dalam uji klinis, yang melibatkan sekitar 20.000 relawan berusia 16 tahun ke atas setidaknya telah menerima satu dosis vaksin Pzifer-BioNTech. 

Di dalam uji klinis yang sedang berlangsung, vaksin Pzifer-BioNTech Covid 19 telah terbukti mampu mencegah Covid 19 setelah diberikan dua dosis dengan jarak pemberian antara dosis pertama dan ke dua adalah tiga minggu, namun durasi waktu pelindungan setelah diberikan vaksin kepada seseorang belum diketahui jangka waktu perlindungannya. Uji klinis fase 2 dan fase 3 untuk vaksin Pzifer-BioNTech, mencakup orang-orang dengan ras putih 81,90%, Hispanik 26,20%, Afrika/Amerika 9,80%, Asia 4,40%, < 3% ras lain. Berdasarkan bukti dari uji klinis, vaksin Pzifer-BioNTech 95% efektif mencegah penyakit Covid-19, yang dikonfirmasi di laboratorium pada orang tanpa bukti infeksi sebelumnya (CDC,2021). 

Efek samping yang dilaporkan akibat pemakaian vaksin Pzifer-BioNTech adalah; nyeri di tempat bekas suntikan, merasa kelelahan, sakit kepala, nyei otot, menggigil, demam, nyeri sendi, pembengkakan di tempat suntikan, kemerahan di tempat suntikan, mual, kurang enak badan, pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati). Kemungkinan kecil apabila jika Vaksin Pzifer-BioNTech dapat menyebabkan alergi berat. Reaksi alergi berat biasanya akan terjadi beberapa menit hingga satu jam setelah mendapatkan dosis Vaksin Pfizer-BioNTech Covid-19. Biasanya penyuntik vaksin akan meminta sipenerima vaksin untuk menunggu sejenak agar dapat memantau apakah akan muncul alergi berat pada si penerima vaksin. Adapun jenis kelamin lakilaki sebanyak 50,60%, perempuan 49,40% dan sebanyak 21,40% berusia 65 tahun dan lebih tua. Adapun relawan yang memiliki kondisi obesitas adalah 35,10%, diabetes 8,40% dan penyakit paru –paru sebesar 7,80% (CDC, 2021).


AstraZeneca 

        AstraZeneca merupakan peusahaan farmasi dari Ingrris yang telah melakukan pengembangan vaksin Covid -19 bersama Oxford University, dan pemerintah Indonesia telah melakukan kerjasama dalam rangka penyediaan vaksin yang disebut dengan nama AZD1222. Vaksin AstraZeneca dibuat dari versi lemah virus flu biasa yang berasal dari simpanse yang telah dimodifikasi supaya tidak tumbuh pada manusia dan hingga saat ini uji coba masih terus berlangsung dengan melibatkan sebanyak sekitar 20.000 sukarelawan. Dikutip dari BBC, disebutkan bahwa vaksin AstraZeneca memiliki keefektifan secara rata-rata adalah 70%. Keunggulan lain dari vaksin tersebut adalah mudah untuk didistribusikan dikarenakan tidak memerlukan penyimpanan pada temperature ruang yang sangat dingin (Femina, 2020).


Kalau ada yang kurang jelas bisa ditanyakan dikolom komentar yah...

Semoga bermanfaat:)


#BerdiriDenganSemangatSolidaritas

#DepartemenHUMAS

#DepartemenKPK