Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
Hallo sahabat sohib…
Dipostingan part 3 ini akan kita ulas terkait mitos dan fakta imunisasi anak dan juga vaksin Covid-19.
Walaupun secara ilmiah vaksin terbukti efektif dan aman digunakan, namun masih banyak mitos-mitos yang beredar. Umumnya mitos tersebut berisi tentang penjelasan yang keliru, sehingga perlu kita ketahui kebenarannya. Langsung saja kita simak artikel berikut ini…
Mitos dan fakta imunisasi anak
1. Efek samping vaksin
MITOS : Pemberian vaksin menimbulkan efek samping yang berbahaya dan bahkan fatal dalam jangka panjang.
FAKTA : Reaksi yang muncul dari vaksin sebagian besar hanya temporer dan ringan, misalnya rasa nyeri pada bagian yang disuntik ataupun demam, namun jarang terjadi dampak yang serius. Risiko kesehatan yang muncul akibat tak menjalani vaksinasi jauh lebih berbahaya ketimbang efek samping dari vaksin. Misalnya virus polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan namun dapat tertanggulangi dengan dilakukannya imunisasi anak.
2. Bayi mati mendadak
MITOS : Ada kasus bayi mati mendadak (sudden infant death syndrome/SIDS) akibat pemberian kombinasi vaksin difteri, pertusis, tetanus (DPT) dan polio.
FAKTA : Usia bayi ketika bisa mengalami kematian mendadak bersinggungan dengan masa pemberian vaksin DPT dan polio. Tapi tak ada temuan bahwa vaksinasi menyebabkan SIDS. Dengan kata lain, terjadinya SIDS cuma kebetulan bertepatan dengan masa vaksinasi dan tetap terjadi walau bayi tak mendapat vaksin.
3. Pemberantasan penyakit
MITOS : Pemberantasan penyakit yang menjadi sasaran vaksin sudah nyaris berhasil. Vaksinasi tak perlu lagi.
FAKTA : Pembawa atau agen penyakit menular yang bisa tertanggulangi dengan imunisasi anak masih ada, meski di suatu negara penyakit itu telah jarang. Agen tersebut bisa datang dari negara lain, melampaui perbatasan, dan menyerang orang-orang yang belum mendapat perlindungan dari vaksin di negara baru. Karena itu, vaksinasi tetap perlu untuk menjaga dan melindungi masyarakat, bukan hanya diri sendiri.
4. Sistem imun anak
MITOS : Sistem imun anak tak sanggup menahan beberapa vaksin yang diberikan secara berbarengan sehingga bisa memunculkan efek samping yang membahayakan.
FAKTA : Tak ada bukti kombinasi vaksin bisa mempengaruhi sistem imun anak. Paparan bakteri pada anak bahkan lebih banyak ketimbang vaksin. Dari memakan makanan menggunakan tangan saja, ada potensi beragam zat asing yang masuk dan menimbulkan reaksi imun. Pemberian sejumlah vaksin secara bersamaan justru bermanfaat karena tak memboroskan waktu dan dana. Jumlah suntikan pun menjadi lebih sedikit.
5. Penyakit bikin kebal
MITOS : Orang akan kebal sendiri terhadap penyakit jika sudah kena. Tak perlu vaksin lagi.
FAKTA : Vaksinasi membuat orang kebal tanpa perlu tertular penyakit. Sementara itu, risiko tertular penyakit bisa fatal. Sebagai contoh, rubela membuat bayi lahir cacat, Hepatitis B bisa memicu kanker hati dan Campak menyebabkan kematian.
6. Anak jadi autis
MITOS : Imunisasi anak memicu autisme
FAKTA : Masyarakat heboh ketika pada 1998 ada studi yang menghubungkan autisme dengan vaksin MMR. Studi itu ternyata keliru dan ditarik dari peredaran. Namun kehebohan berlanjut hingga sekarang dan dipercayai sebagai kebenaran.
Mitos dan Fakta vaksin Covid-19
Meski pemberian vaksin virus Covid-19 telah dilakukan di Indonesia, namun masih ada sebagian masyarakat yang meragukan efektivitas dan keamanannya. Beragam mitos atau hoax yang beredar di masyarakat sehingga sebagian orang masih enggan atau takut untuk di vaksinasi. Apa saja mitos yang beredar dan bagaimana fakta yang sebenarnya? Yukk simak…
• MITOS : Pernah terinfeksi virus corona, tidak perlu menerima suntikan vaksin.
FAKTA : Melansir CDC, 25 Agustus 2020, pasien Covid-19 memang telah memiliki antibodi setelah tertular virus corona. Akan tetapi, antibodi tersebut hanya dapat bertahan dalam jangka waktu 3-4 bulan saja, selebihnya seseorang akan kembali rentan terkena infeksi. Dengan melakukan vaksin, tubuh menjadi lebih memiliki sistem kekebalan yang lebih baik dengan jangka waktu yang lebih lama.
• MITOS : Vaksin virus corona dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh.
FAKTA : Mengutip laman University of Maryland Medical System, 16 Desember 2020, pemberian vaksin Covid-19 tidak berdampak pada sistem kekebalan tubuh. Sebagaimana anak-anak yang menerima berbagai vaksin berdekatan dan memiliki sistem kekebalan tubuh baik, orang dewasa yang akan divaksinasi pun tidak akan terganggu sistem kekebalan tubuhnya.
• MITOS : Vaksin virus corona lebih berbahaya daripada Covid-19.
FAKTA : Faktanya, tidak ada efek samping berbahaya dalam uji coba vaksin Pfizier dan Moderna. Covid-19 tetap jauh lebih berbahaya dari efek samping vaksin. Terdapat setidaknya 1 persen dari orang yang tertular virus corona meninggal dunia, 10-20 persen dirawat di rumah sakit, dan 30 persen pasien postif Covid-19 mengalami gejala jangka panjang (long covid).
• MITOS : Vaksin virus corona tidak bisa diberikan kepada orang yang memiliki alergi.
FAKTA : Melansir CNN, Jumat (18/12/2020), faktanya vaksin Covid-19 memang tidak diberikan pada orang yang memiliki alergi tertentu.
Namun, para ahli mengklaim hanya terdapat sedikit zat-zat yang akan berbahaya jika diberikan kepada orang dengan alergi tertentu, misalnya polietilen glikol.
Profesor dari George Washington University dan peneliti uji klinis vaksin Moderna, Dr. Elissa Malkin menyatakan, adanya reaksi orang yang memiliki alergi terhadap pemberian vaksin merupakan risiko yang wajar.
• MITOS : Vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kemandulan pada wanita karena mengandung bahan yang dapat mengganggu perkembangan plasenta.
FAKTA : Dr. Bernstein berkata, “Tidak ada data untuk mendukung hipotesis ini. Para ahli percaya bahwa vaksin mRNA tidak mungkin menimbulkan risiko bagi wanita hamil atau janinnya." Dia menunjukkan bahwa seperti biasa, CDC akan memantau dengan hati-hati setiap kejadian buruk di bulan-bulan mendatang.
• MITOS : Vaksin Sinovac mengandung boraks dan formalin
FAKTA : Pihak Bio Farma Bandung selaku produsen vaksin Sinovac menyatakan bahwa vaksin diproduksi tidak menggunakan pengawet serta bahan lain misalnya boraks, formalin atau merkuri. Vaksin Sinovac diproduksi menggunakan metode inactivated guna mematikan virus Covid 19 sehingga vaksin tidak mengandung virus hidup maupun virus yang dilemahkan.
• MITOS : Vaksin virus corona dapat mengakibatkan perubahan permanen pada DNA manusia.
FAKTA : Menurut Mark Lynas seorang visiting fellow di Alliance for Science Cornell University tidak ada vaksin yang dapat memodifikasi DNA manusia secara genetika.
• MITOS : Vaksin Sinovac yang disebut-sebut memiliki efek samping dapat memperbesar alat kelamin pria.
FAKTA : Menurut juru bicara Vaksinasi COVID-19 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Lucia Rizka Andalusia, menjelaskan bahwa kabar itu adalah informasi palsu alias hoax.
Bagaimana sahabat sohib, setelah membaca penjelasan diatas masih takut untuk di vaksin gak??
Jika ada yang ingin ditanyakan, bisa tinggalkan di kolom komentar yah. Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh…
#BerdiridenganSemangatSolidaritas
#DepartemenHUMAS


0 Komentar