Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Haloo Sohibsolidaritas...

Setelah sekian lama akhirnya mimin balik lagi nih.  Jadi, tema pembahasan kita kali ini yaitu “Shaccine (Sharing about vaksin)”

Nah… Ketika mandengar kata vaksin, pasti sudah tidak asing lagi kan di telinga teman-teman??? Apalagi dimasa pandemi ini vaksin tengah ramai jadi perbincangan public.

Jadi pembahasan awal kita pada pekan ini yaitu sejarah atau asal mula penemuan vaksin, serta perkembangan vaksin disetiap generasi. Untuk tau lebih jelasnya, yukk langsung saja kita simak artikel berikut ini :)

 

  • Bagaimana sejarah terbentuknya vaksin?

    Vaksin pertama kali ditemukan pada tahun 1796 oleh Edward Jenner yaitu vaksin virus cacar. Ia menemukan bahwa orang yang minum susu dari sapi cacar relatif kebal terhadap penyakit cacar, dia mengambil eksudat dan sekresi dari sapi yang terkena cacar dan memasukkan ke dalam tubuh laki-laki berusia 8 tahun yang bernama James phips pada tanggal 14 Mei 1796. Hasil yang dilakukannya pun efektif, karena anak laki-laki tersebut tidak mengidap penyakit cacar setelah di vaksinasi. Jenner mempublikasikan penemuannya ini pada tahun 1798 sehingga vaksinasi segera diterima. Kemudian Louise Pasteur mengembangkan penemuan Jenner dengan mengembangkan vaksin rabies (antitoksik), dan pada abad ke-19 undang-undang wajib vaksinasi disahkan. Keberhasilan mereka dalam mencegah penyakit seperti polio dan campak mengubah sejarah kedokteran.



  • Mengapa diberi nama vaksin?

   Jadi, istilah vaksin itu digunakan oleh Dr. Jenner. Substansi ini berasal dari cacar sapi, dimana sapi dalam bahasa latin adalah vacca. Istilah vaksin mengacu pada vaksin variola, hingga pada tahun 1885 Louise Pasteur seorang ahli kimia menemukan vaksin untuk rabies. Sejak saat itulah istilah vaksin menjadi lebih umum, yaitu suspensi yang berisi mikroorganisme yang telah dilunakkan atau dinonaktifkan yang berfungsi untuk menimbulkan kekebalan dan mencegah infeksi dari suatu penyakit.

 

  • Bagaimana perbedaan vaksin pada setiap generasi?

No

Generasi Vaksin

Perbedaan

Kekurangan

1

Vaksin Generasi I


Mengandung mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan

Dapat bermutasi kembali menjadi virulen sehingga menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Tidak dianjurkan pada penderita imunokompromais

2

Vaksin Generasi II

 

Mengandung mikroorganisme yang dimatikan menggunakan zat kimia

Menggunakan zat kimia formalin / fenol, dalam penggunaannya sering mengalami kegagalan atau tidak menimbulkan respon imun tubuh

3

Vaksin Generasi III

 

Vaksin rekombinasi atau vaksin sub unit mengandung fragmen antigenetik dari suatu mikroorganisme yang dapat merangsang respon imun

Vaksin rekombinasi umumnya tidak menimbulkan efek samping. Namun demikian vaksin generasi ini hanya dapat menimbulkan respon imun humoral dan tidak dapat menimbulkan respon imun seluler

4

Vaksin Generasi IV

(Vaksin DNA)

 

Dapat merangsang respon imun humoral dan imunitas seluler, dapat diproduksi dalam skala besar lebih ekonomis dibandingkan vaksin konvensional

Beberapa uji pra klinik pada hewan percobaan, integrasi vaksin DNA dalam kromoson hospes masih jauh lebih rendah pada mutasi spontan yang terjadi dialam. Selain integrasi genom vaksin DNA dapat menginduksi autoimunitas, toleransi imunologis dan reaksi alergi terhadap protein yang dihasilkan

 

Jadi bagaimana nih teman-teman, sudah paham belum tentang penjelasan diatas? :)
Untuk kelanjutan materinya, tunggu pekan depan yahh... 
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh :)


#BerdiridenganSemangatSolidaritas
#DepartemenHUMAS