Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Hallo Sahabat Solidaritas…

Masih pada ingat gak sih tentang artikel yang pernah kita bahas sebelumnya terkait mitos dan fakta vaksin. Nahh, setelah teman-teman membaca artikelnya, masih ada yang takut di vaksin gak nih? Pastinya tidak dong…

Berbicara tentang mitos yang sering beredar dimasyarakat terkait pemberian vaksin, tak jarang pula kita mendengar informasi tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau yang biasa disebut dengan KIPI. Oleh karena itu penting untuk kita berikan informasi terkait KIPI agar masyarakat dapat lebih tenang dan tidak cemas ketika timbul Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi tersebut. Untuk lebih jelasnya mari kita simak artikel dibawah ini.


KIPI itu apasih?


KIPI atau biasa disebut Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi adalah kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi baik berupa reaksi vaksin, reaksi suntikan, efek farmakologis, kesalahan prosedur, koinsiden atau hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan. KIPI serius merupakan kejadian medis pasca imunisasi yang tidak diinginkan, yang menyebabkan rawat inap atau perpanjangan rawat inap, kecacatan yang menetap atau signifkan dan kematian sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat.

Perlu diingat, KIPI tidak selalu terjadi pada setiap orang yang diimunisasi. Munculnya gejala ringan cenderung lebih sering terjadi dibandingkan reaksi radang atau alergi serius terhadap vaksin.


Penyebab KIPI?

Selama ini, persepsi masyarakat terhadap Kejadian Ikutan Pasca Imunsasi menganggap bahwa hal tersebut terjadi karena adanya reaksi alergi terhadap vaksin. Akan tetapi, hasil laporan KIPI oleh Vaccine Safety Comittee, Institute of Medicine (IOM) United State of America (USA), menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi secara kebetulan saja (koinsidensi). Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan (programmatic errors). 

Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan (KomNas-PP) KIPI mengelompokkan etiologi KIPI dalam 2 (dua) klasifkasi, yaitu klasifkasi lapangan (untuk petugas di lapangan) dan klasifkasi kausalitas (untuk telaah Komnas KIPI). (Kemenkes RI, 2013).

1. Klasifikasi lapangan

Sesuai dengan manfaat dilapangan komnas PP KIPI memakai kriteria World Health Organization (WHO) Western Pacific (1999) yang memilah KIPI dalam lima kelompok berikut

    a. Kesalahan Prosedur (Program)/Teknik Pelaksanaan (Programmatic Error)

Sebagian besar KIPI berhubungan dengan kesalahan prosedur yang meliputi kesalahan prosedur    penyimpanan, pengeloalaan dan tata laksana pemberian vaksin.

Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai tingkatan prosedur imunisasi. Misalnya, dosis antigen (terlalu banyak), lokasi dan cara penyuntikan, sterilisasi syringe dan jarum suntik, jarum bekas pakai, tindakan aseptik dan antiseptik, kontaminasi vaksin dan peralatan suntik, penyimpanan vaksin, pemakaian sisa vaksin, jenis dan jumlah pelarut vaksin, tidak memperhatikan petunjuk produsen (petunjuk pemakaian, indikasi kontra, dan lain-lain). (Akib, 2011).

    b. Reaksi Suntikan

Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik, baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung, meliputi rasa sakit, bengkak, dan kemerahan pada tempat suntikan. Adapun reaksi tidak langsung, meliputi rasa takut, pusing, mual, sampai sinkop. Reaksi ini tidak berhubungan dengan kandungan yang terdapat pada vaksin, yang sering terjadi pada vaksinasi massal. Pencegahan reaksi KIPI akibat reaksi suntikan bisa dilakukan dengan menerapkan teknik penyuntikan yang benar, membuat suasana tempat penyuntikan yang tenang dan mengatasi rasa takut pada anak. (Akib, 2011)

    c. Induksi Vaksin (Reaksi Vaksin)

Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian, dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaksis sistemik dengan risiko kematian.

Reaksi lokal

Rasa nyeri di tempat suntikan, bengkak-kemerahan di tempat suntikan (10%), bengkak pada daerah suntikan DPT dan tetanus (50%), BCG scar terjadi minimal setelah 2 minggu kemudian ulserasi dan sembuh setelah beberapa bulan.

Reaksi sistemik

Demam (10%), kecuali DPT (hampir 50%), iritabel, malaise, gejala sistemik. Pada MMR dan campak reaksi sistemik disebabkan infeksi virus vaksin. Terjadi demam dan atau ruam, konjungtivitis (5–15%), dan lebih ringan dibandingkan infeksi campak, tetapi berat pada kasus imunodefisiensi. Pada Mumps terjadi pembengkakan kelenjar parotis, rubela terjadi rasa nyeri sendi (15%) dan pembengkakan limfe. Pada Oral Polio Vaccine (OPV) diare (<1%), pusing, dan nyeri otot.

Reaksi vaksin berat

Kejang, trombositopenia, hypotonic hyporesponsive episode (HHE), persistent inconsolable srceaming bersifat self-imiting dan tidak merupakan masalah jangka panjang, anafilaksis, potensial menjadi fatal tetapi dapat di sembuhkan tanpa dampak jangka panjang. Enselofati akibat imunisasi campak atau DTP.


Pencegahan terhadap reaksi vaksin, di antaranya perhatikan indikasi kontra, tidak memberikan vaksin hidup kepada anak defisiensi imunitas, ajari orangtua menangani reaksi vaksin yang ringan dan anjurkan untuk segera kembali apabila ada reaksi yang mencemaskan (paracetamol dapat diberikan 4x sehari untuk mengurangi gejala demam dan rasa nyeri), kenali dan atasi reaksi anafilaksis, siapkan rujukan ke rumah sakit dengan fasilitas lengkap (Akib, 2011).

    d. Faktor Kebetulan (Koinsiden)

Salah satu indikator faktor kebetulan ini ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama pada saat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakteristik serupa, tetapi tidak mendapat imunisasi.

    e. Penyebab Tidak Diketahui

Apabila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan ke dalam kelompok ini. Biasanya, dengan kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.

2. Klasifikasi Kausalitas

Vaccine Safety Committe (1994) membuat klasifikasi KIPI yang sedikit berbeda dengan laporan Committee Institute of Medicine (1991) dan menjadi dasar klasifikasi saat ini, yaitu tidak terdapat bukti hubungan kausal (unrelated), bukti tidak cukup untuk menerima atau menolak hubungan kausal (unlikely), bukti memperkuat penolakan hubungan kausal (possible), bukti memperkuat penerimaan hubungan kausal (probable), dan bukti memastikan hubungan kausal (very like/certain) (Akib, 2011).

Pada tahun 2009, WHO merekomendasikan klasifikasi kausalitas baru berdasarkan 2 aspek, yaitu waktu timbulnya gejala (onset time) dan penyebab lain yang dapat menerangkan terjadinya KIPI (alternative explanation: no, maybe, yes).


Klasifikasi kualitas KIPI





Jadi KIPI itu adalah kasus yang jarang terjadi dan kebanyakan tidak membahayakan. Risiko munculnya KIPI masih lebih ringan daripada risiko terjangkit penyakit serius yang tentu lebih mengancam nyawa, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kalau ada yang kurang jelas bisa ditanyakan dikolom komentar yah...
Semoga bermanfaat:)

#BerdiriDenganSemangatSolidaritas
#DepartemenHUMAS
#DepartemenKPK