Assalamualaikum sohib solidaritas.....
Apa Kabar?
Baik-baikki Nah... Jaga kesehatan taJ Tetap patuhi protokol kesehatan, makan makanan yang sehat dan bergizi, rajin cuci tangan dan selalu gunakan masker ketika hendak berpergian...

Teman-teman sohib solidaritas, selama masa Pandemi Covid – 19 kesadaran masyarakat menggunakan masker dan sarung tangan sekali pakai sebagai Alat Pelindung Diri (ADP) semakin tinggi, dan setelah tak lagi terpakai maka akan menjadi sampah. Tak hanya itu, saat ini banyak rumah sakit yang belum memiliki teknologi pengelolaan limbah medis Covid – 19, juga mungkin berasal dari rumah-rumah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang melakukan karantina mandiri, limbah medis ini contohnya seperti masker, botol obat dan tissu bercampur sampah rumah tangga biasa saat dibuang.

Hal ini menimbulkan masalah, salah satunya limbah ADP selama Pandemi ini mengancam Biota Laut. National Geographic Indonesia melaporkan, sampah Alat Pelindung Diri (ADP) berupa masker dan sarung tangan bekas pakai selama Pandemi Covid – 19 telah mencemari laut dan mengancam biota di dalamnya. Membuang sampah medis sembarangan juga dapat meningkatkan resiko paparan Covid – 19 dan juga memiliki dampak negatif pada lingkungan.

Jadi, sohibsolidaritas disini mimin akan bahas cara mengelola limbah ADP. Berikut cara mengelola limbah ADP seperti masker dan sarung tangan sekali pakai:

1.    Potong-potong dan buang
Untuk limbah masker di luar fasilitas pelayanan kesehatan, diluar rumah para pasien atau orang dalam pemantauan (PDP dan ODP), baik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah mengeluarkan pedoman yang sama. Masker dipotong-potong atau dirusak terlebih dahulu sebelum dibuang. Cara ini disarankan untuk mencegah penyalahgunaan, seperti dijual kembali.


2.   Tempat Penampungan Sementara (TPS) atau Depo Transit
WHO dan Badan Kesehatan Publik di Inggris (Public Health England) menyarankan memasukkan limbah ADP saat Covid – 19 ke dalam kantung plastik kuning dua lapis dan ditampung selama 72 jam di tempat sementara sebelum dibuang ke fasilitas pengolahan akhir. Bulan Februari 2020, studi yang dilakukan oleh peneliti  bidang Teknologi Industri asal Cina, Yu Hao dan rekan-rekan peneliti di Norwegia merekomendasikan penampungan sementara limbah padat dari fasilitas pelayanan kesehatan di tempat transit sebelum dibawa ke tempat akhir selama wabah berlangsung. Public Health England menyarankan menampung limbah ADP selama 72 jam sebelum pengangkutan. Harapannya, virus sudah mati baru  dibawa ke fasilitas penanganan akhir.
3.    Pembakaran atau Insinerasi
Seperti disebutkan di atas proses indinerasi bisa menimbulkan masalah baru yang lebih serius yaitu munculnya limbah B3. Limbah B3 yang berbentuk abu yang terbang di udara, kerak sisa pembakaran, dan emisi dari tungku bakar yang mengandung dioksin, partikel sangat lembut (ultrafine particles), dan logam berat yang berpotensi mencemari air, tanah dan udara.

Jadi, teman-teman itulah beberapa cara mengelola limbah ADP agar tidak mencemari lingkungan dan terhindar dariancaman biota laut. Semoga bermanfaat
Tetap Jaga Kesehatan ......
Terima Kasih, Sampai Jumpa .....